Basic and General Indicator Industri Susu Bubuk di Indonesia

indonesia-map
Bagi Perusahaan Barat, Indonesia Itu Negeri Lautan Susu

Indonesia kini digambarkan sebagai pasar senilai US$3,7 miliar untuk susu.

 

JAKARTA, Jaringnews.com – Di mata perusahaan-perusahaan Barat, Indonesia bukan negeri kolam susu sebagaimana digambarkan lagu Koes Plus. Lebih dari itu, Indonesia adalah negeri lautan susu. Meningkatnya jumlah kelas menengah, serta jumlah penduduk berusia dibawah 4 tahun mencapai 22 juta jiwa, jelaslah Indonesia pasar yang sangat menjanjikan bagi produk susu.

Itulah alasan yang mendorong perusahaan konsumen global seperti Nestle dan Procter & Gamble, tiada henti menanamkan investasi ratusan juta dolar di Indonesia. Sebagaimana dilaporkan oleh Reuters, (12/8), di mata perusahaan-perusahaan itu Indoenesia ibarat sebuah pertaruhan yang sudah pasti akan dimenangkan. Kelas menengah negeri ini diperkirakan akan mencapai 150 juta jiwa pada 2014. Semakin menawan lagi karena pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa mencapai 6,4 persen kwartal lalu di tengah melemahnya ekonomi global.

Hanya saja, masih perlu kerja keras bagi para perusahaan-perusahaan Barat itu untuk benar-benar menjadikan Indonesia sebagai negeri lautan susu. Tidak seperti popok sekali pakai-produk Barat yang laris-manis dan dengan cepat diterima oleh konsumen Indonesia sebagai bagian dari gaya hidup-‘budaya minum susu’ di Indonesia masih tertinggal bila dibandingkan di negara maju, bahkan negara tetangga.

Ibu-ibu di sejumlah wilayah di Indonesia secara tradisional lebih suka memberi anak-anak bayi mereka pisang atau daging yang dihaluskan ketimbang susu segar. Mahalnya transportasi di tengah buruknya jalan dan pelabuhan, ditengarai jadi salah satu alasan di balik hal ini.

Meskipun demikian, para praktisi di industri susu yakin, hal semacam itu akan segera berubah. Perusahaan-perusahaan konsumen global yakin dengan sedikit upaya pemasaran inspiratif kelas menengah Indonesia akan segera terbiasa dengan budaya meminum susu ala Barat tersebut

“Indonesians tidak memiliki budaya susu,” kata  Boenjamin Setiawan, pendiri perusahaan farmasi PT Kalbe Farma, yang memasarkan produk-produk susu.

“Tetapi hal itu sedang berubah saat ini berkat meningkatnya kelas menengah Indonesia,” kata dia.

Penjualan susu bubuk dan susu segar di Indonesia telah meningkat rata-rata sembilan persen dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan kedua tercepat di Asia setelah China. Indonesia kini digambarkan sebagai pasar senilai US$3,7 miliar untuk susu. Meskipun demikian, bila dilihat dari konsumsi perkapita, Indonesia masih jauh tertinggal: hanya 2,7 kg per tahun, jauh dibawah rata-rata konsumsi di kawasan Asia yang mencapai 17 kg per tahun.

 

Itu sebabnya, perusahaan-perusahaan Barat masih terus getol berinvestasi, mengingat potensi besar yang ada di hadapan. Nestle menanamkan uangnya US$200 juta tahun lalu untuk membangun pabrik susu bubuk dan cair bermerek Milo yang diharapkan beroperasi tahun 2014. Sementara Fonterra, raksasa produk susu dari Selandia Baru juga mulai membangun pabriknya tahun ini.

“Permintaan susu di Indonesia diperkirakan akan tumbuh 50 persen dalam delapan tahun ke depan. Itu menjadikan Indonesia menjadi pasar kunci bagi kami,” kata Maspiyono Handoyo, managing director Fonterra di Indonesia.

Indofood Sukses Makmur, yang menguasai 14 persen apsar susu di Indonesia, juga baru saja membangun sebuah pabrik senilai US$130 juta. “Kami sedang mencari strategi untuk meningkatkan pangsa pasar,” kata Anthony Salim, CEO Indofood.

Para pelaku bisnis ini umumnya sepakat pemasaran merupakan faktor sangat vital untuk menjadikan Indonesia lautan susu. Maka tidak heran bila dalam iklannya, Nestle menunjukkan balita yang meminum Dancow tumbuh lebih cepat dan menjadi lebih aktif daripada anak-anak lain. Menurut  Debora Tjandrakusuma, direktur Nestle, perusahaan itu juga memandang media sosial semakin penting sebagai medium pemasaran, karena warga Indonesia merupakan salah satu pengguna facebook dan twitter terbesar di dunia.

Danone, pesaing Nestle, melansir iklan produknya, Nutrilon, dalam Bahasa Inggris walau pun kebanyakan orang Indonesia tidak mengerti bahasa itu. Dengan iklan demikian, diharapkan konsumen mengasosiasikan dirinya sebagai orang tua canggih bila membiasakan anak-anaknya mengkonsumsi susu.

“Kebanyakan orang sadar bahwa meminum susu sangat baik bagi anak-anak mereka. Mereka setuju pada konsep itu. Pertanyaannya adalah merek susu mana yang akan mereka pilih,” kata Elwin Mok, managing creative director Celsius, sebuah perusahaan periklanan yang berbasis di Jakarta.

 

Posted in Good Read, Knowledge & Beyond.