Batas Kepemimpinan

Batas Kepemimpinan
Batas Kepemimpinan
SWA Online| January 23, 2015
“Ketika seorang pemimpin yang efektif menyelesaikan pekerjaannya, orang-orang mengatakan bahwa itu terjadi secara alami.” (Lao Tzu)
Hari-hari terakhir pemimpin dan kepemimpinan menjadi salah satu isu yang paling penting di kehidupan kita. Kepemimpinan bangsa dengan Presiden baru Joko Widodo (Jokowi). Kepemimpinan DKI Jakarta dengan Gubernur baru Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), kepemimpinan ibu Risma dalam bencana AirAsia yang patut dipuji serta kepemimpinan dari berbagai organisasi publik, pemerintah maupun swastatelah menjadikan saat ini sebagai waktu yang tepat untuk melakukan refleksi: sejauh manakah para pemimpinmampu melakukan perubahan dan seberapa banyak perubahan dan/atau transformasi yang dapat kita harapkan dari para pemimpin kita?
“Manajemen adalah melakukan dengan benar. Manajemen adalah melakukan hal yang benar,” begitu kata kata Peter Drucker. Namun batasan antara kedua hal tersebut menjadi kabur ketika kini muncul tuntutan agar manajer juga menjadi pemimpin yang efektif dan pemimpin juga sekaligus menjadi manajer yang andal. Tuntutan akan kepemimpinan yang mampu memberikan visi yang relevan dan memastikan visi tersebut terterapkan dengan efektif menjadi semakin besar karena baik ia seorang pemimpin bangsa dengan 250 juta penduduk, kota megapolitan dengan jumlah penduduk mencapai 20 juta, perusahaan multinasional dengan seribu profesional, atau perusahaan kecil dengan 20 karyawan; semuanya adalah organisasi yang membutuhkan atau lebih tepatnya menempatkan sederet harapan kepada para pimimpinnya.
Jadi, apakah sebenarnya yang dibutuhkan untuk menjadi pemimin yang ekfektif?” Keterampilan, kekuatan dan kepribadian seperti apa yang dibutuhkan seseorang untuk dapat memberikan hasil yang nyata? Kita melihat literatur kepemimpinan penuh dengan kata-kata seperti “Kharisma”, “Determinasi”, “Komitmen”, “Passion/Hasrat” dan “Visi”. Apakah benar demikian adanya? Apa kesemua pemimpin efektif mutlak memiliki trait atau karakter yang seperti tertera diatas?
Hasil riset berpuluh tahun yang dilakukan Prof. Brian Morgan dari Cardiff Business School teryata membuktikan hal yang berbeda. Tidak ada yang konsisten dari daftar descriptor yang dapat membantu kita mengidentifikasi pemimpin yang luar biasa. Pemimpin sukses yang ternyata sangat beragam. Ada yang esentrik, konformis, selalu khawatir, ada yang sangat santai, beberapa orang sangat memesona dan hangat, serta beberapa lainnya memiliki kepribadian yang sangat kaku dan cenderung pendiam.
Hasil riset ini sejalan dengan 20 tahun pengalamam saya sebagai profesional di berbagai organisasi. Saya malah cenderung berpendapat bahwa tidak ada kepemimpinan yang bebas konteks, dan efektivitas kempemimpinan sebagian besar sangat bersifat situational. Pandangan saya ini sejalan dengan teori kepemimpinan yang mengatakan bahwa, baik model kepemimpinan transaksional maupun kepemimpinan transformasional,yang dapat dipastikan untuk selalu efektif dalam segala situasi dan semua waktu. Filosofi seorang pemimpin harus cukup fleksibel untuk dapat beradaptasi dengan situasi dan perubahan zaman. Kita membutuhkan campuran teknik kepemimpinan transaksional dan transformasional untuk dapat menyelesaikan pekerjaan. Ide dasar di balik teori tersebut adalah seseorang harus mampu menyeseuaikan strategi dengan kondisi yang selalu berubah.
Hidup, didefinisikan dengan cerdas adalah suatu pencarian tanpa akhir terhadap pengetahuan. Jadi, jika Anda berpikir bahwa Anda mengetahui segalanya yang ada, Anda mungkin telah sampai ke akhir. Seorang pemimpin harus selalu membuka mata dan telinganya secara terus menerus untuk selalu terbuka dalam menyerap pemikiran dan ide-ide baru, terlepas dari mana pun mereka berasal. Semua kesempatan untuk belajar keterampilan baru tidak boleh diabaikan begitu saja karena itu akan memberikan dorongan untuk berkembang. Manajemen dan kepemimpinan adalah bidang yang sangat dinamis. Gaya lama dan ideologi-ideologi menjadi kuno dan yang baru akan menggantikannya. Apa yang berfungsi saat itu, mungkin tidak akan berfungsi sekarang. Bisnis saat ini menuntut pendekatan manajemen yang berbeda. Semua pemimpin tidak memiliki cara yang sama dalam memandang suatu hal. Beberapa memilih pendekatan ‘carrot’, sementara yang lainnya memiilih pendekatan ‘stick’. Beberapa melihat kebebasan sebagai cara mengembangkan kreativitas dan pemikiran individu, sementara yang lain percaya bahwa sejumlah kontrol diperlukan untuk mencapai target dan menyelesaikan pekerjaan.
Seorang pemimpin yang efektif harus mampu dan bersedia untuk mengerti dan bekerja dalam keterbatasan dari lingkungan tempat dia bekerja. Hal ini disebabkan karena tidak adanya sebuah lingkungan yang sepenuhnya dan/atau selalu kondusif dan karenanya proses menghubungkan kinerja dengan kepemimpinan tidak pernah mudah.
Pemimpin harus sangat bersemangat untuk membuat poin dimana mereka dapat membentuk sebuah visi yang jelas dan memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk mengkomunikasikan rencana mereka ke seluruh organisasi dan dengan demikian akan muncul kinerja yang luar biasa. Namun, dalam kenyataannya, apa yang terjadi tidak akan pernah jelas sepenuhnya. Ini terjadi karena dalam urat nadi organisasi yang kompleks kepimpinan dan pimpinan akan selalu berhadapan dengan keterbatasan.
Beberapa pemicu keterbatasan tersebut dapat dilihat dari beberapa fakta. Pertama, fakta bahwa strategic choicesering membutuhkan berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk muncul. Perubahan sering kali dimulai dari single-loop, pendekatan win-win daripada evolusi double-loops atau triple-loops. Chris Argyris (2002) mendefinisikan pembelajaran single-loop sebagai pendeteksi dan koreksi kesalahan tanpa merubah nilai dan kultur organisasi. Sebagai contoh, thermostat diprogram untuk menyala ketika suhu di dalam ruangan dingin, matikan api jika ruangan menjadi terlalu panas. Thermostat adalah pembelajaran double-loops jika thermostatdapat menanyakan mengapa dia diprogram untuk mengukur suhu, kemudian menyesuaikan suhu tersebut. Sebagai catatan, perubahan yang diperlukan dalam “double loops” membutuhkan sebuah aktualisasi‘Revolusi Mental’ala Presiden Jokowi,yang seharusnya berarti perubahan menuntut kita melihat, mempertanyakan dan bila perlu merubah nilai nilai dan kultur yang selama ini berlaku.
Sumber kedua yang berpotensi membatasi peran kepemimpinan dapan ditelurisi dari perbedaan tingkat urgensi dari tahap proses evolusi perusahaan yang berbeda. Organisasi yang sedang dalam kesulitan dan/atau organisasi baru mungkin akan jauh lebih bersedia untuk beradaptasi dengan cepat dibandingkan dengan organisasi yang sudah berumur dan organisasi yang sudah sukses. Ini terjadi karena perilaku yang konsisten dan dijalankan dalam waktu yang lama akan terakumulasi menjadi sebuah konsensus, sebuah kebiasaan. Dalam situasi seperti itu, dibutuhkan keberanian yang luar biasa untuk membangun sebuah organisasi kelas dunia.
Salah satu aspek yang paling menantang dari kepemimpinan adalah menciptakan keseimbangan yang tepat antara pengambilan keputusan sebagai seorang pemimipin dan pembentukan atmosfer, dimana visi yang jelas dikomunikasikan dengan baik ke seluruh urat nadi organisasi. Visi yang dikomunikasikan dengan baik harus meliputi komitmen dari pimpinan organisasi kepada ke semua anggota organisasi tersebut dan sebaliknya. Menghargai dan rasa peduli yang nyata kepada orang-orang dalam organisasi Anda adalah satu hal mendasar dari kepemimpinan yang baik. Manusia adalah aset yang paling berharga dalam organisasi, sehingga ini menjadi sangat esensial bagi seorang pemimpin untuk menginvestasikan waktu dan tenaganya untuk mengembangkan mereka dengan memberikan kesempatan-kesempatan yang ada, pengakuan jangka pendek maupun panjang dan rasa memiliki yang kuat.

Dr. Rudolf Tjandra, MBA, MSc, FCIM, FICM, DBA (UK)
Chief Marketing Officer & Direktur PT Softex Indonesia

Posted in Indonesian.