Positioning – Kembali ke Dasar

beha

Positioning – Kembali ke Dasar

Positioning adalah metode dalam marketing untuk membentuk persepsi suatu produk, merk, atau identitas perusahaan. Di mulai dari Jack Trout dan Al Ries, sebuah konsep dasar dalam komunikasi yang mereka sebut sebagai Positioning hadir dan terus berkembang. Kini semua marketer paling tidak sudah pernah mendengar pentingnya memposisikan manfaat keseluruhan: atribut produk dan nilai emosional yang terkandung didalam sebuah merek dalam berkompetisi.

Banyak diantara kita sering salah mengerti dan mengira positioning adalah sekedar menyampaikan apa yang dikandung dalam sebuah produk.  Mereka berlomba-lomba memposisikan produk dengan menonjolkan ‘kualitas’, rasa, dan kegunaan. Hal ini tepat dilakukan apabila anda sedang memasarkan produk yang novel. Yang merupakan inovasi yang unik dan belum ada duanya di pasar. Atau anda sedang memperkenalkan produk/servis yang belum pernah ada sebelumnya seperti misalnya mobil yang dapat pula berfungsi sebagai pesawat atau tablet computer pertama dan mungkin termurah di dunia.  Konsumen tidak membeli produk hanya untuk mendapatkan utilitas dari atribut produk tersebut tetapi apa yang terkandung di dalam sebuah merek: brand promise, personality, attitude.

Positioning adalah apa yang anda lakukan untuk pikiran dari si calon pelanggan. Ya itu, anda menempatkan merek di benak potensial konsumen. Positioning adalah sebuah teknik bagi si pemasar yang mencoba membentuk sebuah image, identitas sebuah produk, merek atau perusahaan dengan membentuk persepsi sesuai dengan yang dibutuhkan konsumen. Yang terpenting adalah bagaimana konsumen mempersepsikan sebuah merek dan semua janji yang terkandung didalamnya relatif dengan apa yang ditawarkan competitor.

Prinsip dasar dari positioning dapat dibedakan menjadi tiga bahagian. Pertama fungsional, yang menawarkan pemecahan masalah, memberikan manfaat kepada konsumen. Kedua, simbolis, yang mendukung meningkatkan image diri, identifikasi ego, kepemilikan dan arti sosial, kecenderungan pemenuhan. Dan yang terakhir adalah pengalaman yaitu memberikan sensor stimulasi, memberikan stimulisi secara kognitif.

Belakangan tiga variasi baru dari positioning telah diperkenalkan untuk melawan pola life cycle merek dan sekaligus merubah bagaimana para konsumen memahami mereka dengan positioning dan re-positioning dengan secara berkala dan tiba tiba. Tiga strategi positioning yang digunakan para pemasar untuk mengubah mental konsumen, adalah kebalikan (reverse), memisahkan (breakaway) dan positioning secara diam-diam.

Sebagai marketer sering dengan membicarakan hal yang basic secara berkala kita dapat terus mempertajam kemampuan untuk berpikir dan bertindak dengan lebih kreatif dalam.  Kita dapat pula dengan lebih luwes memberikan penjelasan kepada rekan-rekan kita di fungsi non marketing tentang apa yang kita lakukan.  Mudah mudahan tulisan ini paling tidak berhasil mencapai tujuan tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Indonesian, Knowledge & Beyond, Rudolf's Articles.