Problem, problem, problem

Problem, problem, problem
What’s Your Problem?

Di dalam dunia manajemen semua problem dapat dikategorikan secara umum sebagai ‘tame’ problem atau ‘wicked’ problem’ ‘Tame’ problem bisa jadi adalah sebuah atau serangkaian problem yang siftanya ‘open-ended’ – problem ditemukan, dicarikan solusinya, problem selesai. Mungkin juga ‘tame’ problem tersebut adalah sebuah rangkaian masalah yang penuh komplikasi tetapi dengan waktu dan metode yang tepat dapat juga diselesaikan dengan baik dan membuahkan hasil akhir yang baik pula. Metode pemecahan ‘tame’ problem umumnya dapat ditemukan dengan misalnya menerapkan ‘best practices’ dan dengan ilmu dan pengetahuan yang kita pelajari dari pengalaman, riset dan temuan. ‘Best practice’ pada intinya adalah serangkaian ‘programmed knowledge’ yang dapat dipejari dan dikuasai oleh praktisi manejemen melalui pendidikan dan /atau pengalaman. Berbagai masalah yang kita temui dalam organisasi: motivasi karyawan, design organisasi, pengelolahan distribusi, dan/atau manajemen demand dan supply adalah masalah ‘tame’. ‘Tame problem’ membutuhkan gaya kepemimpinan yang kalkulatif yang mampu menggabungkan gaya manajemen ‘command & control’ dengan gaya yang ‘collaborative’.
Sementara,‘wicked problem’ menurut Rittell and Webber (1973) adalah problem yang bukan hanya kompleks dan penuh dengan segala komplikasi tetapi juga sangatlah sulit untuk di pinpoint mana awal, tengah dan/atau ujung dari permasalahannya. Solusi yang diterapkan kemungkinan besar akan berakhir kepada permasalan baru. Salah satu contoh adalah bagaimana misalnya kita dapat menerapkan system manajemen yang partisipatif dalam situasi dan kultur yang mengedepankan penujunjukan rasa hormat kepada yang lebih tua, lebih berpengalaman dan/atau yang lebih berkuasa. Bagaimana pula kita dapat melahirkan anak anak sekolah yang kritis dan kreatif dalam sebuah kultur dimana guru selalu benar dan sang murid hanya perlu menyimak dan mendengarkan dengan seksama? Kemacetan di ibukota menurut saya adalah suatu bentuk wicked problem. Satu solusi yang diterapkan menghasilkan problema lainnya dan/atau membutuhkan investasi yang terus menerus. Ketika berhadapan dengan melemahnya toleransi antara umat beragama Pimpinan negara juga menghadapi wicked problem. Setiap aksi dan non-aksi hanya akan menyinggung satu pihak dan/atau lainnya. Tanpa legal framework dan kemampuan untuk menerapkan keputusan legalitas sangatlah sulit diharapkan akan terjadi banyak perbaikan terhadap wicked problem ini. Belum lagi dalam setiap wicked problem terdapat actor actor yang memiliki kepentingan yang berbeda, erhitungan keuntungan yang berbeda dan karenanya aksi dan reaksi yang berbeda pula. Jalan teraman adalah menghindari menhadapi problema yang ada dengan pertanyaan ‘kita semua harus bersabar, menahan diri, meningkatkan toleransi’.
Wicked problem bukan juga tanpa solusi tapi fokus kita harus beralih dari sekedar mencari solusi terhadap problem yang memang sangat kompleks tapi pemecahan wicked problem membutuhkan aplikasi ‘insighful questioning’ yang sangat persisten dan penuh konsistensi. Smith (1997) misalnya menganjurkan agar kita dapa membuat pola yang seimbang anatar programmed learning (P) dengan insightful questioning (Q). Dalam prakteknya kita berbicara tentang belajar dan pengembangan kemampuan dan pengetahuan melalui pendidikan dan kurikukum formal dan menggabungkannya dengan menciptakan kebiasaan untuk mempertanyakan apa yang sedang kita pelajari, apa yang kita ketahui, apa yang tidak kita ketahui. Kebenaran dalam hal ini bukanlah hal yang mutlak dan jawaban terhadap wicked problem berkembang dan berevolusi sesuai keadaan yang berlaku. Wicked problem pada intinya membawa kita kepada kebutuhan akan kemampuan untuk me-manage perubahan. Untuk menggulirkan, menyambut dan menangani perubahan yang kadang membutuhkan kita untuk mempertanyakan apa yang selama ini menjadi kepercayaan kita dan/atau cara kita berpikir dan mengelolah informasi.
Saya sendiri condong kepada pola pikir yang didasari classical economic theory yang menyatakan bahwa organisasi bisnis adalah sebuah ‘purposeful entity’ yang gerak gerik dan tindak tanduknya lebih bersifat natural daripada planned (terencanakan). Perubahan tidak terjadi dengan tiba tiba tapi melalui tahap evolusi dan bersifat incremental. Melihat dengan perspektif ini saya yakin bahwa perubahan adalah bahagian tidak terpisahkan dari aksi dan reaksi sebuah organisasi. Lahan dan latar belakang dimana organisasi harus berkompetisi dan berkembang dipenuhi dengan constant flux yang sewaktu waktu mebuat apa yang kita rasakan sebagi kestabilan tiba tiba tergoyahkan. Perubahan adalah sesuatu yang berasal dari evolusi berkesinambungan yang bersigat ‘emergent’ dan bukan sekedar deliberasi terencana. Ditengah evolusi yang terus bergulir, perubahan akan secara natural terjadi agar sebuah organisasi/perusahaan dapat dengan tepat memformulasikan, membuat rencana, dan mengimplimentasikan strategi yang sesuai dengan keadaan terakhir dan/atau keadaan yang segera berlaku dilingkungan mereka.
Me-manage perubahan dengan sukses memanglah bukan hal yang gampang. memanglah tidak mudah. Berbagai praktisi dan akademis ternama seperti Kotter (1996) dan Cadwell (2003) membuktikan peran kristis seorang pemimpin dalam membawa sebuah organisasi dalam meraih kemenangan atas berbagai ‘wicked problems’ yang harus dihadapi. Untuk menggulirkan perubahan kita memerlukan pimpiman yang mapu mendefinisikan seperti apa masa depan yang harus diraih (sense-making), mengajak semua elemen dalam organisasi/komunitas untuk merangkul visi tersebut dan terus memberikan inspirasi agar setahap demi setahap kesemuanya dapat menjadi kenyataan,

Posted in Culture and Conversation, Indonesian, Knowledge & Beyond, Rudolf's Articles.