Strategi Dalam Abad Asia

Strategi Dalam Abad Asia
Akhir – akhir ini kita sering mendengar betapa besarnya ancaman yang datang dari perusahaan China. Banyak kalangan pengusaha bahkan berpendapat, tanpa dukungan dari pemerintha, elsistensi perusahaan nasional dalam posisi yang genting.

Kekuatan ekonomi China tentunya tidak di ragukan lagi. Belum lama kita mendengar bahwa China telah menggeser Jepang sebagai Negara dengan Ekonomi kedua terbesar di Dunia. GDP Guangdong sudah sama besarnya dengan GDP Indonesia; GDP Henan melebihi besarnya GDP Thailand; GDP Beijing tidak kalah besarnya dengan GDP Filiphina; dan, ekspor Guandong sudah melebihi total ekspor Korea Selatan.

Kekuatan ekonomi China merupakan kekuatan yang harus dihadapi, bahkan dimanfaatkan dengan baik oleh kalangan bisnis nasional. Hal inilah yang mendorong disepakatinya kerjasama perdangan bebas anatara China dengan Negara-negara ASEAn termasuk Indonesia melalui perjanjian ACFTA (Asean-China Free Trade Area). Keadaan ini mendesak kita untuk dengan serius terus mengembangkan kemampuan kompetitif perusahaan-perusahaan nasional agar dapat berkompetisi dan/atau beraliansi dengan perusahaan ASEAN dan China. Kekuatan ini dapat dimulai dengan memastikan terlebih dahulu bahwa kita benar-benar mampu menguasaui pasar Asia.

Hasil riset dari Cardiff Business School dan INSEAD menunjukkan bahwa ada enam kuncin utama untuk mengenal pasar Asia. Pertama, perbedaan tajam dalam penghasilan dan preference. Pada umumnya negara berkembang masih mengalami kesulitaan dalam pemerataan penghasilan. Di China, misalnya, menurut hasil riset BCG, sekitar 12% penduduknya memiliki gross income per capita sebesar USD 42.500 (CNY 280.500), sementara 70% penduduknay hidup dengan gross income percapita dibawah USD 3.500. Sementara raksasa Asia lainnya, yaitu India, bisa kita sebut sebagai “The Land of Contradictions”. Ini karena di India kita bisa lihat taraf hidup mereka setara dengan taraf kehidupan terbaik di dunia dan mereka yang memiliki standar dan gaya hidup seperti di negara miskin Afrika.

Bagaimana perusahaan menyiasati agar bisa memenangkan hati mereka, seperti yang disebut CK Prahalad sebagai BO{ (Bottom Of Pyramid), middle class yang terus berkembang dan, mereka yang berada dikelas atas menjadi salah satu kunci sukses di Asia.

Kedua, jumlah konsumen yang sangat besar dan hampir belum terkelola dengan baik. Dari sekitar 7 milyar penduduk dunia separuhnya ada di benua Asia, dan sebagian besar dari mereka berusia muda. Mereka bisa dikategorikan sebagai concious non customer, unconcious non customer dan customer besar dan kecil, regular dan jarang. Masing – masing dari mereka tentunya merupakan kesempatan besar untuk dikelola oleh perusahaan-perusahaan. Terhadap non customer ini, BOS (Blue Ocean Strategy) diarahkan. Dengan mengeliminsai, mengurangi apa yang tidak terlalu perlu atau apa yang kita kenal sebagai nice to have dan berguna (have to have), Nitendo wii berhasil menggemparkan pasar games dunia dan terus mendapatkan konsumen yang tidak pernah berfikir menjadi customer games electronic.

Ketiga, sebagian besar konsumen Asia adalah mereka yang baru pertama kalinya melakukan pembelian. Dalam konteks B2C, sebagian besar konsumen Asia adlah mereka yang pertaman kali membeli rumah, mobil, lemari es, dan banyak lagi. Sementara dalam konteks B2C, pengusaha muda yang baru mulai berusaha pertama kalinya membeli perangkat IT, perangkat kantor. Umumnya mereka lebih memperhatikan dan sensitif terhadap harga, dan lebih menggunakan gimmicks dan fungsi sampingandari sebuah produk dan tidak terlalu mengutamakan durability. Di China, misalnya, pada level ini, klien lebih menggunakan harga rendah, hasil kembali yang cepat (quick return), sementara servis dan maintenance tidak terlalu penting.

Keempat, apa yang disebut sebagai Social Contagion dalam berkonsumsi. Hal ini terjadi karena di Asia kita lebih mengarah kepada masyarakat yang kolektif (vs. individualistik di barat). Di satu sisi, riset menunjukkan, pilihan terhadap sebuah produk umumnya banyak mempengaruhi oleh pengaruh umum. Memiliki atau membeli apa yang digunakan (‘digemari’) banyak orang dilingkungan kita seakan menjadi prasyarat bagi kita untuk tetap eksis dan menjadi bagian dari lingkunga tersebut. Sementara, disisi lain, karena kita biasa menjadi bagian dari umum dan populer, akan pula menjadi pilihan kita, terdapat pula pasar yang ingin ekstrim berbeda dengan umum. Kalangan ini bersedia membayar premium untuk tampil beda (tampil lenih baik dari umum). Apartement semacam Tomson Riviera yang dijual dengan harga USD 1.120 per m, atau apple Iphone yang kita kenal baik di Indonesia adalah beberapa produk yang berhasil mendapatkan perhatian kalangan ini. Konsumen pada kalangan ini bersedia membayar premium untuk symbolic value yang ditawarkan produk semacam ini.

Yang terakhir adalah apa yang disebut sebagai institutionals voids. Disebagian besar negara berkembang di Asia masoh banyak kelemahan dalam hal akses terhadap modal dan institusi keuangan, akses terhadap dukungan birokrasi dan pemerintahan, akses terhadap proteksi hukum yang terjamin, akses terhadap pendidikan dan aumber informasi yang memadai dan baik, serta akses tenaga kerja yang memiliki kemampuan setara dengan pekerja di negara maju. Kelemahan – kelemahan ini seharusnya juga hadir sebagai kesempatan kepada birokrasi untuk meningkatkan kemampuannya dan keunggulan kompetitif negaranya, serta sebagai tantangan menarik bagi perusahaan Indonesia yang ingin berkompetisi di Asia yang juga umumnya memiliki pengalaman untuk sukses dalam situasi yang kadang tidak menentu.

Mungkin yang sangat penting untuk mendapat perhatian khusus adalah bagaimana menigkatkan hard skill dari business leaders Indonesia. Walaupun beragam riset membuktikan bahwa secara posotof business leaders di Asia umumnya sangat confident, berorientasi pada result, dan berani mengambil keputusan dengan cepat dan tegas, namun memiliki kelemahan dalam hal memotivasi karyawan, membangun environment of trust, memimpin high performance individuals dan tim. Umumnya kelemahan ini terjadi bukan karena tidak adanya keinginan para leaders ini untuk melakukan yang terbaik. Menurut Development Dimension Internasional (DDI), kelemahan ini terjadi lebih dikarenakan masih kurangnya modern leadershi[ skills dan organizational development di kalangan business leaders di Asia.

Pada akhirnya, perusahaan – perusahaan Indonesia akan sulit untuk mendapatkan keuntungan besar dari bangkitnya Asia pada umumnya dan China pada khususnya, apabila kita tidak memastikan bahwa kita lebih mengenal diri kita sendiri dan mereka daripada mereka mengenal diri mereka sendiri. Keenam kunci utama untuk mengenal pasar Asia yang diuraikan di atas dapat menjadi masukan awal proses mengenal pasar bagi perusahaan Indonesia yang ingin bersaing di pasar Asiadan terus maju serta berkibar di Abad Asia.

Posted in Indonesian, Research, Rudolf's Articles.