The Rule of Three dalam Berbisnis – SUARA MERDEKA ARTICLE

Scan Rudolf
Ekonomi & Bisnis

SUARA MERDEKA

27 Mei 2013

The Rule of Three dalam Berbisnis

SUDAH menjadi rahasia umum bahwa banyak perusahaan di Indonesia sering latah dan masuk ke suatu bisnis atau industri, hanya karena kita me­nganggap bisnis/industri tersebut sedang ngetren. Tanpa ana lisa dan strategi akibatnya pe­rusahaan tersebut gagal me­raih ke­sempatan yang ada, dan akhir­nya tenaga, uang dan waktu pun terbuang percuma.

Selain perlunya pengertian strategi dan kepemilikan core competency yang unik (artikel sebelumnya), saya ingin mengambil kesempatan ini untuk mengingatkan kembali apa yang dikenal sebagai The Rule of Three.

Walau konsep The Rule of Three yang dipopulerkan Jag­dish Steth dan Rajendra Sisodia mendapat kritikan dunia aka­demis, riset yang saya laku­kan dengan teman yang tergabung dalam Global Learning Set dan Knowledge Creation University of Liverpool Mana­gement School, telah menya­kinkan saya bahwa sebagai pelaku bisnis perlu memperhatikan beberapa fenomena, sebelum terjun ke industri tertentu.

Dengan strategi yang tepat bukanlah tidak mungkin pemain baru maupun pemain yang tertinggal di belakang, dapat menggoyahkan pemain dominan yang ada dan menciptakan peta kompetitif yang baru.

Hasil riset panjang membuktikan bahwa seperti yang di advokasikan The Rule of Three evolusi dan adaptasi yang dilakukan perusahaan perusahaan yang berkompetisi di dalamnya, akan memastikan pada akhirnya hanya akan ada 3 perusahaan yang mendominasi kuat industri industri tersebut. Dominasi direa lisasikan dalam bentuk tiga perusahaan menguasai 70-90% dari total pasar di industri tersebut. Dominasi mereka akan sangat sulit digoyah dan pemain pemain lainnya akan hanya dapat menjadi pemain marginal tanpa kesempatan untuk mendapatkan revenue, keuntungan maupun pangsa pasar yang berarti.  Dalam dunia marketing pun, kita sangat paham kemampuan/keinginan kosumen untuk melakukan recall setiap kategori produk/servis tidaklah melebihi dari tiga merek. Karenanya hanya tiga merek tersebutlah yang dipertimbangkan saat melakukan pembelian.

Banyak contoh di dalam maupun di luar negeri yang dapat kita sebutkan sebagai contoh. Di industri popok bayi ada 3 perusahaan yang mendominasi, yakni Softex Indonesia dengan Sweety dan Happy Nappy, UniCharm dengan Mamipoko, dan P & G dengan Pampers. Industri rokok masih di dominasi oleh Sampoerna, Gudang Ga­ram, dan Djarum. Di bidang fast food ada McDonalds, Burger King, and Wendy’s (di Indonesia mungkin yang ketiga lebih tepat dikatakan ditempati KFC). Industri sepatu sport dunia hingga kini masih didominasi Nike, Reebok dan Adidas.

Dominasi tiga perusa­ha-an/merek bias berskala global, regional, nasional, dan/atau bahkan terbatas pada level provinsi.

Tapi pada intinya perusahaan/merek yan tidak termasuk kedalam urutan 1,2 maupun 3 di dalam industri yang sudah relatif mature, hanya akan dapat menjadi pemain niche, spesialis, atau bahkan pemain peramai tanpa kemampuan untuk bertahan hidup.

Menjadi pemain niche/spesialis yang umumnya secara total dapat menguasai 1-10% dari total pasar, juga bukan pilihan buruk.

Dengan strategi yang tepat industri yang didominasi oleh tiga pemain dominan, tetap memiliki tempat untuk pemain spesialis /niche yang mampu menawarkan dan memberikan suatu keunikan tersendiri untuk pasar dan konsumen di industri tersebut. (79)

– Dr Rudolf Tjandra BA Hons, MBA, DBA, FCIM, FICM, FilM (UK) Direktur Marketing, Softex Indonesia

Posted in Indonesian, Knowledge & Beyond, Rudolf's Articles.